Disadur Dari Pertanyaan Seorang Imam Besar kepada murid-muridnya:
1. "Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?"!
Yang paling dekat dengan kita adalah 'mati'.
Semua yang hidup pasti akan mati,semua yang berbentuk pasti akan aus dan rusak. Oleh karena itu
sudah siapkah kita mati? Bekal apakah yang akan kita bawa mati?!..
2."Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?"
Yang paling jauh dengan kita adalah 'masa lalu'.
Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang lebih baik daripada masa lalu kita,jika kita masih diberi kesempatan.
3."Apa yang paling besar di dunia ini?"
Yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu" .
Karena nafsu banyak yang kehilangan akal sehatnya,karena nafsu tidak ada cukupnya.
4."Apa yang paling berat di dunia ini?"
Yang paling berat adalah "memegang Janji/amanah/titipan".
Dengan mudahnya mengucap janji,tapi kadang dengan mudahnya beralasan untuk mengingkarinya,manusia sumber ilmu,tapi banyak lupanya kalau dia berilmu,orang yang berilmu selalu berusaha menepati dan menjaga janjinya agar tidak ingkar..
5."Apa yang paling ringan di dunia ini?"
Yang paling ringan didunia ini adalah "meninggalkan ibadah" .
Banyak karena urusan dunia maupun men'cukupi' nafsunya,ibadah terlupakan,lupa kalau mati akan tiba kapan saja sesuka YME mendatangkannya buat manusia..
6."Apa yang paling tajam di dunia ini?"
Yang paling tajam adalah "lidah manusia". Lidah atau alat bicara manusia akan dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk melebihi tajamnya pedang,lukanya bisa tak terobati,dan itulah gunanya menakar pembicaraan untuk menempatkan segala kata-kata yang dikeluarkan alat bicara tidak melukai mahluk lain,apalagi kadang manusia lebih suka 'menusuk' dirinya sendiri dengan mengatakan yang tidak layak kepada YME.
Sesungguhnya,kita manusia diciptakan hanya untuk mencari tujuan penciptaan itu sendiri,yaitu mengabdi kepada Sang Maha Pencipta,tiada ada yang abadi,semua akan kembali ke bentuk asalnya,dan dari asal muasalnya juga.
Tubuh fana kita,apalagi harta,semua akan kembali ke tanah untuk didaur ulang, nyawa/roh kita kembali kepada Sang Maha Kuasa, Kesadaran kita akan diadili pada masanya nanti,karena Jiwa dan Raga yang dipinjamkan kepada Kesadaran kadang banyak digunakan untuk bukan yang dinginkan oleh YME.
Semoga saya dan siapa saja menyadari itu untuk menghargai segala waktu yang ada untuk menuju yang lebih baik untuk segalanya.
Kamis, 10 Desember 2009
Jumat, 13 November 2009
MEMAKNAI HIDUPKU dan HIDUPMU..

( disadur dari sebuah Spiritual Story by Unknown )
Sekelompok Alumni sebuah universitas terkemuka mengadakan reuni ke seorang guru besarnya yang dianggap telah membuat mereka semua 'sukses' dalam mencapai pencapaian hidup mereka,ada pengacara,menteri,petinggi militer,akuntan,karyawan biasa,direktur perusahaan besar, dan beberapa ibu rumah tangga dan pekerja kreatif
Dari berbincang biasa,terjadi debat serius mengenai kenapa ada yang 'berhasil' dan 'tidak berhasil' padahal semua adalah dari alumni yang sama dan terjadilah perbincangan yang mengarah ke kecemburuan sosial,mengenai harta,koleksi mobil,pekerjaan yang tidak menyenangkan,gaji yang rendah dsb.
untuk mencairkan suasana,sang guru besar menawarkan minuman segar,teh racikan sang guru besar yang special katanya,dibawanya satu ceret besar teh yang telah diseduh dan beberapa cangkir istimewa koleksinya,ada yang terbuat dari perak, ada yang berlapis emas, gelas kristal mahal, gelas kaca biasa dan beberapa cangkir dari tanah liat biasa yang kelihatan kusam walau bersih.
Ketika semua almamater sang guru besar sudah memegang cangkir masing-masing, cangkir tanah yang kusam walau bersih tidak ada yang memakai,semua memilih cangkir yang terbaik,kebetulan koleksi sang guru besar banyak,akhirnya sang guru besar berkata," Semua masalah adalah dari diri masing masing,seperti memilih cangkir,kalian semua tidak mau menggunakan cangkir tanah ini yang menurut saya akan membuat rasa teh semakin nikmat walau sebenarnya sama saja,karena teh ini hanya teh biasa yang dijual diwarung-warung,itulah sumber masalah kalian,kalian maunya yang terbaik,itulah yang membuat kalian stress dan tidak bisa menikmati hidup kalian sewajarnya.."
yakinlah,cangkir yang kamu pakai tidak merubah rasa teh ini,kadang hanya mahal dan lebih mahal wadahnya,atau malah menutupi warna teh itu sendiri. Sebenarnya apa yang kamu inginkan hanya secangkir teh untuk diminum, bukan memakan atau meminum cangkirnya bukan?, tapi kesadaran kalian hanya menginginkan cangkir yang terbaik...dan kamu mulai memandangi dan membandingkan cangkir rekan-rekanmu,jika kamu tidak kebagian kamu akan berebut atau menggerutu..
sekarang ibaratkan: Hidup adalah minuman ini; pekerjaan,posisi,harta adalah cangkirnya.Itu semua hanya alat untuk mewadahi kehidupan, dan macam apapun wadahnya,tidak akan membuat hidup kita berbeda atau lebih berkualitas,kita tetap bernafas dan perlu makan,buang hajat dan sebagaiya,semua sama saja, dimana kita tinggal,dari orang yang dikolong jembatan sampai yang diapartemen mewah.
Kadang, karena terlalu berkonsentrasi pada mencari wadah yang terbaik, kita lupa menikmati rasa minuma ini. Berfokuslah pada rasa minuman ini yang menyegarkan dan menyehatkan, bukan wadahnya! Orang yang berbahagia TIDAK MEMILIKI SEGALANYA. Tapi mereka bersyukur dan sangat menikmati apa yang dia punyai dan dipinjamkan oleh yang Maha Kuasa.Sederhanakan Cara Hidup. Sayangi dan Cintai lebih dalam dan bermakna bukan hanya ucapan dan artian. beri perhatian yang makin mendalam. Bicaralah dan berpikirlah dengan bijak."
Enjoy your Life,, sebelum kontrak kita didunia habis dan hanya tinggal sesal tidak sempat menikmatinya..
it's just the power of WANG SINAWANG and ELING LAN WASPADA untuk selalu BERSYUKUR...
Minggu, 08 November 2009
Lusts are not Lasting ( Jangan Serakah )
Teringat waktu masih kecil, mungkin juga ada yang pernah melakukannya?,atau malah sampai sekarang kalau makan minta satu porsi tapi selalu masih ada yang tersisa,bukan sampahnya tapi makanan yang kita pesan atau yang kita ambil dari tempatnya padahal kita sudah tahu kapasitas perut kita (lain halnya waktu masih kecil dulu,selalu lapar,atau malah malas kalau disuruh makan?)
Waktu kecil masih doyan2nya makan: ambil nasi (nasi karena orang Indonesia) sepiring penuh,lauk dipenuhin biar kakak/adik ga kebagian,makan masukin kemulut banyak-banyak (kecuali yg males makan lo,cacingan ?hehe ),pas sudah kekenyangan piring dan makanan yang masih berantakan belum habis langsung ditinggalkan lalu buru-buru main,jatah ibu kita mengomel atau mau tdk mau tetap dibersihkan orang tua kita,sambil menasihati " jadi anak makanya jangan serakah,kalau kurang ya nambah jangan ambil banyak tapi nggak dihabisin..nanti dosa,, nanti ayamnya mati,,nanti pak taninya menangis,,nanti nasinya ngambek..dsb nasihat-nasihat baik lainnya yang tanpa kita sadari,ternyata memang kita harus memahami bahwa apa yang diberikan orang tua untuk mendidik anaknya tak lain semua demi kebaikan dan pengharapan yang baik dari orang tua kita agar kita menjadi makin betanggung jawab dengan apa yang kita lakukan dalam perjalanan kita menempuh usia yang dipinjamkan.
Waktu sudah tua(tapi 'belum dewasa'): Kita tahu bahwa gaji kita hanya segitu-segitu saja,dan tentunya dengan kondisi pekerjaan(bagi yang bekerja) dan atau dengan kondisi usaha (bagi yang berbisnis atau berusaha) tidak memungkinkan terjadi booming pendapatan kecuali terjadi keajaiban yang sebenarnya tidak ada yang bisa memeperhitungkannya walau banyak orang yang mengharapkannya,sesuatu yang ajaib adalah gift/pemberian yang tidak patut diharapkan namun disyukuri agar tidak lupa kalau kita mendapatkanya,tapi tidak ada yang memprediksi bisa tepat,,dengan kondisi Pekerjaan dan Usaha yang fleksibilitas untuk mencapai kemajuan yang tergambar seperti itu,tiba tiba ada tawaran menarik ,misalnya,ada rekan kerja yang meminta bantuan untuk melakukan suatu tindakan penyelewengan di tempat kerja,yang hasilnya jika dibagi dengan teman yang mengajak tersebut,dapat digunakan membuat usaha sendiri yang lebih besar dari tempat bekerja dan bisa digunakan untuk jalan-jalan juga,tapi dengan syarat mengambil data penting pekerjaan untuk dijual dipihak luar,kebetulan teman tersebut tidak dibagian yang dikerjakan tsb. Nah jika kita menyetujui apa yang diminta teman kita tersebut,resikonya dipecat,,tapi karena kita tergiur dengan segala kondisi yang dibayangkan,kita lakukan permintaan tersebut..dan akhirnya menyesalah karena keserakahan akan hasil yang besar,ternyata teman yang mengajak tersebut tidak memberikan sepeserpun hasil dari yang sudah dijanjikan,terburuk malah menuduh dan melaporkan dengan segala buktinya bahwa anda penghancur usaha dikantor tempat bekerjanya, dia mendapatkan promosi,dan si teman yang tergiur malah dipecat dengan sejuta malu dan sesal karena keserakahannya akan iming-iming hasil yang menggiurkan tadi,sedang si pengadu dengan seringainya menikmati promosi dan fasilitas yang seharusnya tadinya dibayangkan oleh teman yang dipecat didapat..
Atau dalam dunia usaha terlalu nafsu karena selalu untung jika membeli banyak,semua dapat terjual habis,maka untuk menghindari persaingan yang tidak diinginkan,semua barang di produsen dibelinya dan semua di distributor diambil untuk dikuasai,agar dapat memonopoli, tapi disuatu waktu ditemukan produk baru yang lebih murah dan dapat dibuat siapa saja dan menyaingi produk yang sebelumnya merajai tersebut,akhirnya si penjual/pengusaha yang serakah tadi,walau dengan perhitungannya sebelumnya selalu benar,tiba-tiba bangkrut karena modal semua digunakan untuk memonopoli,bukan karena dia bodoh atau tidak bisa menghitung,tapi karena serakah..
Jadi Serakah itu walau dapat banyak jika memang mampu serakah,tidak akan bertahan lama,entah untuk segi materinya,maupun segi kesehatan dan kebahagian dan kesenangan yang didapat,karena jika sekali sudah serakah,seakan seluruh muka bumi ingin dikuasai,tiba-tiba,jatah 'kontrak' dengan umur yang dikandung badan habis dan siap diambil Sang Pencipta,tinggalah sesal,ternyata waktu untuk berbakti kita pada YME hanya habis untuk berbakti kepada YMN ( Yang Maha Nafsuin..hehehe)
Jadi jangan terburu nafsu,jadikan nafsu yang terburu,jadi segala sesuatu selalu diperhitungkan..
- ( in memoriam of Nafsuin Banget Sih Lohh...hehehe )
- ( karena nafsu bukanlah nafas atau semangat..LUST is NOT SPIRIT !! ) remember dude..)
Waktu kecil masih doyan2nya makan: ambil nasi (nasi karena orang Indonesia) sepiring penuh,lauk dipenuhin biar kakak/adik ga kebagian,makan masukin kemulut banyak-banyak (kecuali yg males makan lo,cacingan ?hehe ),pas sudah kekenyangan piring dan makanan yang masih berantakan belum habis langsung ditinggalkan lalu buru-buru main,jatah ibu kita mengomel atau mau tdk mau tetap dibersihkan orang tua kita,sambil menasihati " jadi anak makanya jangan serakah,kalau kurang ya nambah jangan ambil banyak tapi nggak dihabisin..nanti dosa,, nanti ayamnya mati,,nanti pak taninya menangis,,nanti nasinya ngambek..dsb nasihat-nasihat baik lainnya yang tanpa kita sadari,ternyata memang kita harus memahami bahwa apa yang diberikan orang tua untuk mendidik anaknya tak lain semua demi kebaikan dan pengharapan yang baik dari orang tua kita agar kita menjadi makin betanggung jawab dengan apa yang kita lakukan dalam perjalanan kita menempuh usia yang dipinjamkan.
Waktu sudah tua(tapi 'belum dewasa'): Kita tahu bahwa gaji kita hanya segitu-segitu saja,dan tentunya dengan kondisi pekerjaan(bagi yang bekerja) dan atau dengan kondisi usaha (bagi yang berbisnis atau berusaha) tidak memungkinkan terjadi booming pendapatan kecuali terjadi keajaiban yang sebenarnya tidak ada yang bisa memeperhitungkannya walau banyak orang yang mengharapkannya,sesuatu yang ajaib adalah gift/pemberian yang tidak patut diharapkan namun disyukuri agar tidak lupa kalau kita mendapatkanya,tapi tidak ada yang memprediksi bisa tepat,,dengan kondisi Pekerjaan dan Usaha yang fleksibilitas untuk mencapai kemajuan yang tergambar seperti itu,tiba tiba ada tawaran menarik ,misalnya,ada rekan kerja yang meminta bantuan untuk melakukan suatu tindakan penyelewengan di tempat kerja,yang hasilnya jika dibagi dengan teman yang mengajak tersebut,dapat digunakan membuat usaha sendiri yang lebih besar dari tempat bekerja dan bisa digunakan untuk jalan-jalan juga,tapi dengan syarat mengambil data penting pekerjaan untuk dijual dipihak luar,kebetulan teman tersebut tidak dibagian yang dikerjakan tsb. Nah jika kita menyetujui apa yang diminta teman kita tersebut,resikonya dipecat,,tapi karena kita tergiur dengan segala kondisi yang dibayangkan,kita lakukan permintaan tersebut..dan akhirnya menyesalah karena keserakahan akan hasil yang besar,ternyata teman yang mengajak tersebut tidak memberikan sepeserpun hasil dari yang sudah dijanjikan,terburuk malah menuduh dan melaporkan dengan segala buktinya bahwa anda penghancur usaha dikantor tempat bekerjanya, dia mendapatkan promosi,dan si teman yang tergiur malah dipecat dengan sejuta malu dan sesal karena keserakahannya akan iming-iming hasil yang menggiurkan tadi,sedang si pengadu dengan seringainya menikmati promosi dan fasilitas yang seharusnya tadinya dibayangkan oleh teman yang dipecat didapat..
Atau dalam dunia usaha terlalu nafsu karena selalu untung jika membeli banyak,semua dapat terjual habis,maka untuk menghindari persaingan yang tidak diinginkan,semua barang di produsen dibelinya dan semua di distributor diambil untuk dikuasai,agar dapat memonopoli, tapi disuatu waktu ditemukan produk baru yang lebih murah dan dapat dibuat siapa saja dan menyaingi produk yang sebelumnya merajai tersebut,akhirnya si penjual/pengusaha yang serakah tadi,walau dengan perhitungannya sebelumnya selalu benar,tiba-tiba bangkrut karena modal semua digunakan untuk memonopoli,bukan karena dia bodoh atau tidak bisa menghitung,tapi karena serakah..
Jadi Serakah itu walau dapat banyak jika memang mampu serakah,tidak akan bertahan lama,entah untuk segi materinya,maupun segi kesehatan dan kebahagian dan kesenangan yang didapat,karena jika sekali sudah serakah,seakan seluruh muka bumi ingin dikuasai,tiba-tiba,jatah 'kontrak' dengan umur yang dikandung badan habis dan siap diambil Sang Pencipta,tinggalah sesal,ternyata waktu untuk berbakti kita pada YME hanya habis untuk berbakti kepada YMN ( Yang Maha Nafsuin..hehehe)
Jadi jangan terburu nafsu,jadikan nafsu yang terburu,jadi segala sesuatu selalu diperhitungkan..
- ( in memoriam of Nafsuin Banget Sih Lohh...hehehe )
- ( karena nafsu bukanlah nafas atau semangat..LUST is NOT SPIRIT !! ) remember dude..)
Rabu, 21 Oktober 2009
Sinis apa Sirik?
Sebenarnya ini timbul dari beberapa kali melihat perubahan dna kemajuan atau kegiatan orang lain,sungguh menjemukan hari -hari hanya menghadapi rutinitas yang terpikir kadang sangat menjemukan.
Kembali menerawang saat-saat masih bersemangat membangun awal yang saya sebut dunia baru,agar lebih bersemangat,namun keberanian dan kekhawatiran saling beradu untuk menuju yang disebut keberhasilan finansial.
Tapi jika kita melihat orang yang notabene adalah trouble maker, tiba-tiba ,zuuupp.. sukses finansial dilihat dari luar tercapai dengan begitu saja,mengesampingkan proses yang terjadi, penglihatan ini menjadi sirik atau sinis dan berprasangka buruk.
Sungguh tidak pantas sebenarnya kalau begitu,bahwa YME dialah yang maha kuasa menentukan siapa yang akan dilebihkan dan dikurangkan,bagaimanapun menurut kita mereka tidak pantas untuk mendapatkanya,karena dengan sombongnya kita mengaku telah berusaha lebih keras dari orang lain,kita lebih pantas untuk mendapatkan keberhasilan itu.
Mungkin sikap manusia,mungkin saat berpikir negatif tersebut kita sedang alpha,bahwa secuilpun manusia tidak berhak berpikir sinis apalagi sirik.. Yah teruslah berjuang dengan apa yang kita punyai,apapun itu harus selalu disyukuri,baik syukur untuk diri sendiri,dan syukur atas kebahagian yang diterima orang lain.
Kembali menerawang saat-saat masih bersemangat membangun awal yang saya sebut dunia baru,agar lebih bersemangat,namun keberanian dan kekhawatiran saling beradu untuk menuju yang disebut keberhasilan finansial.
Tapi jika kita melihat orang yang notabene adalah trouble maker, tiba-tiba ,zuuupp.. sukses finansial dilihat dari luar tercapai dengan begitu saja,mengesampingkan proses yang terjadi, penglihatan ini menjadi sirik atau sinis dan berprasangka buruk.
Sungguh tidak pantas sebenarnya kalau begitu,bahwa YME dialah yang maha kuasa menentukan siapa yang akan dilebihkan dan dikurangkan,bagaimanapun menurut kita mereka tidak pantas untuk mendapatkanya,karena dengan sombongnya kita mengaku telah berusaha lebih keras dari orang lain,kita lebih pantas untuk mendapatkan keberhasilan itu.
Mungkin sikap manusia,mungkin saat berpikir negatif tersebut kita sedang alpha,bahwa secuilpun manusia tidak berhak berpikir sinis apalagi sirik.. Yah teruslah berjuang dengan apa yang kita punyai,apapun itu harus selalu disyukuri,baik syukur untuk diri sendiri,dan syukur atas kebahagian yang diterima orang lain.
Jumat, 07 Agustus 2009
JARGON versus KATA-KATA BIJAK
Saya bukan sesiapa yang pengen dianggap tahu,tapi hanya seseorang yang ingin berbagi pikiran baik..I Love You Full... Tak Sobek - Sobek Mulutmu.. Ya iyalah...
Jangan menyakiti orang jika tidak mau disakiti, Jangan berdusta jika tidak mau didustai.
Berani berbuat berani bertanggung jawab.
hahhaha..haha...I Love You Full......
Dari beberapa hal tertulis diatas,pasti banyak yang sudah tahu darimana asal-usul kata-kata itu,baik hanya sekedar kata-kata saja,atau diartikan lebih luas lagi untuk dimaknai, sekarang hak dan kewajiban kita masing-masing untuk melihat kedalam diri, apa yang sudah kita lakukan..?
Pantaskah kita disebut berhasil? walau yang menilai baru diri sendiri? Pantaskah?
Melihat kedalam diri ternyata kadang lebih susah daripada menghakimi,maka pantaslah para hakim disebut 'tangan Tuhan' kekiri 'neraka' kekanan 'surga'..walau belum tentu apa yang diputuskannya akan membawa dirinya sendiri ke Surga yang sebenarnya entah di dunia atau di alam akhirat,karena setiap individu itulah yang sepantasnya dapat melihat dirinya sendiri.
Apa yang dilakukannya,pantaskah untuk membawa dirinya ke Surga yang sebenarnya atau keberhasilan yang sebenarnya..mari bercermin,cermin Jasmani dan cermin Rohani, dimana sepantasnya kita berada jika yang kita lakukan seperti apa yang selalu kita lakukan sampai detik ini, sudah pantas disebut berhasilkah kita.
Benar kata anonymous bahwa GAJAH DIPELUPUK MATA TAK TERLIHAT,KUMAN DISEBRANG LAUTAN TAMPAK..
Mari kita ambil cermin untuk belajar.
NIAT=HASIL

Sederhana sekali ya dua kata tersebut, tapi banyak dari kita termasuk saya sendiri sering melupakan kekuatan niat dan hasil yang diinginkan.
Yes I will, Yes I do ..sedikit berbeda namun seharusnya sama,kadang kebanyakan hanya saya akan,atau saya kerjakan , komitmen? Sekedar belajar dari pengalaman orang - orang yang bisa mencapai apa yang menjadi keinginannya dengan komitmen untuk konsisten dengan tujuan utama dan diniati dengan sungguh dengan menjalankan bersungguh-sungguh pula,ternyata banyak sekali bukti yang kadang kita membutakan diri kita sendiri untuk dengan sombongnya tidak mempercayai kekuatan itu,kita sering hanya berjargon dan tidak mau menjalankan,niat hanya sampai dibibir yang cuma sebagian fisik yang tidak bisa mewujudkan apa yang diniatkan tanpa kesatuan badan dan jiwa dalam mencapainya.
Jika niat diawali dari jiwa yang tulus dan sebenarnya,bukan karena keterpaksaan tetapi sebagai keinginan,tentunya dalam kebaikan,baik usaha maupun ibadah,adalah sama,karena keduanya adalah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, usaha adalah ibadah,ibadah adalah usaha.
Ada orang bilang itu adalah teori LOA ( Law of Attraction ) dsb, ah kalau kita cuma belajar dari motivator-motivator itu,atau buku-bukunya, gemanya hanya akan terasa dua tiga hari, tapi kalau kita belajar dari apa yang diperintahkan oleh YME untuk segalanya berserah kepada-Nya,dan setulusnya dijalankan,kenapa kita harus jauh-jauh mencari guru untuk mencambuk kita,padahal walau kita sudah digodam dan diremukkan tanpa harus dilecut-pun kalau tanpa niat dari dalam jiwa tembus ke fisik untuk diwujudkan tidak akan kita temukan keberhasilan yang diinginkan,berhasil bukanlah materi yang berlimpah,walau itu adalah alat yang tidak bisa diingkari untuk mendapatkan keberhasilan,ya keberhasilan hidup di alam fisik ataupun alat ibadah jika kita gunakan dengan benar untuk mendapatkan keberhasilan di akhir hayat.
Niat menentukan keberhasilan,menentukan niat dari lubuk hati yang terdalam,bahwa segala sesuatu akan berpulang kepada YME,itulah hasil yang seharusnya kita inginkan,materi diperlukan sebagai alat menuju keberhasilan itu,bukan sebagai tujuan,itulah sebenar-benarnya Law of Attraction yang harus ada disetiap manusia,jika sudah demikian,berbagilah walau sedikit,walau sekedar senyum, indahnya dunia jika tiap-tiap manusia adalah penghuni Surga,walau belum pernah kita tahu seperti apa Surga itu,kita andaikan saja Surga adalah segala sesuatu yang penuh Kasih Sayang yang seharusnya,seperti yang selalu kita ucapkan dalam segala kegiatan,namun kita lupa memahami walau tahu arti " Dengan nama Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang" sadarkah dan pahamkah kita dengan apa yang kebanyakan tidak sepenuh jiwa dan keluar dari bibir,bibir mengucap karena terbiasa saja?
Semoga kita semua berhasil dalam kebenaran yang dirahmati dengan niat yang tulus dan keberhasilan yang dinginkan adalah kebaikan.
Rabu, 03 Juni 2009
BIASANYA TAPI BUKAN SEHARUSNYA
Bapak: " Siapa yang naruh gelas disini? khan ini meja belajar,,? Habis minum mbok ya ditaruh ketempat cucian ".
Anak jawab: " Khan biasanya juga naruh disitu..hehe..tapi nggak seharusnya.." sambil ngeloyor ambil gelas untuk dicuci..pinter ngeles dan pinter ngasih tahu,pikir si Bapak.
Jadi sepertinya sesuatu yang tidak "Seharusnya" sering "dibiasakan" sehingga menjadi keseharian yang melenceng, banyak contoh dari diri kita sendiri atau yang kita temukan diluaran jika kita sedang sendiri atau berinteraksi.
1. "Biasanya saya lewat jalan ini pak,meski ada ferbodden ga pernah ditangkap,kenapa saya ditilang sekarang?"
2. " Biasanya saya mbayar tip langsung di acc, kenapa sekarang harus ribet begini begitu document segala,saya ga mau ribet,bisa ga bayar berapa?"
3. " Biasanya saya ga pernah ditegur kalau begini..kenapa sekarang kok dilarang,khan rambunya ga jelas,,".
dsb..dsb...sdb..
Sampai kapan kalau kita yang hidup di Pertiwi negeri ini dari hal yang paling kecil sudah membiasakan yang seharusnya tidak dilaksanakan,dan tetap membiasakan hal yang tidak patut karena tidak ada yang melarang,tidak ada yang melihat,tidak ada polisi,tidak ada yang ngawas, dsb...dst.
Semoga kita semua bisa memulai dari diri sendiri dan keluarga untuk melaksanakan yang seharusnya,seharusnya takut kita bukan kepada sesiapapun kecuali YME, sehingga apa yang kita lakukan akan membimbing kita selalu pada yang seharusnya.
Anak jawab: " Khan biasanya juga naruh disitu..hehe..tapi nggak seharusnya.." sambil ngeloyor ambil gelas untuk dicuci..pinter ngeles dan pinter ngasih tahu,pikir si Bapak.
Jadi sepertinya sesuatu yang tidak "Seharusnya" sering "dibiasakan" sehingga menjadi keseharian yang melenceng, banyak contoh dari diri kita sendiri atau yang kita temukan diluaran jika kita sedang sendiri atau berinteraksi.
1. "Biasanya saya lewat jalan ini pak,meski ada ferbodden ga pernah ditangkap,kenapa saya ditilang sekarang?"
2. " Biasanya saya mbayar tip langsung di acc, kenapa sekarang harus ribet begini begitu document segala,saya ga mau ribet,bisa ga bayar berapa?"
3. " Biasanya saya ga pernah ditegur kalau begini..kenapa sekarang kok dilarang,khan rambunya ga jelas,,".
dsb..dsb...sdb..
Sampai kapan kalau kita yang hidup di Pertiwi negeri ini dari hal yang paling kecil sudah membiasakan yang seharusnya tidak dilaksanakan,dan tetap membiasakan hal yang tidak patut karena tidak ada yang melarang,tidak ada yang melihat,tidak ada polisi,tidak ada yang ngawas, dsb...dst.
Semoga kita semua bisa memulai dari diri sendiri dan keluarga untuk melaksanakan yang seharusnya,seharusnya takut kita bukan kepada sesiapapun kecuali YME, sehingga apa yang kita lakukan akan membimbing kita selalu pada yang seharusnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
